Kado Ulang Tahun Untuk Rakyat: Kisah Perahu Layar Dan Filosofi Kepala Ikan
Langkah ini bukan untuk gagah-gagahan atau sekadar mencari simpati populis. ASR memegang teguh filosofi “ikan busuk dimulai dari kepalanya.”
“Jika kepala sudah busuk atau rusak, maka bagian yang lainnya juga akan ikut rusak,” tegasnya.
Dengan menolak fasilitas negara, ia memberi pesan kuat kepada seluruh jajarannya: jika gubernurnya tidak “macam-macam” dengan uang negara, maka bawahannya pun tak punya alasan untuk menyimpang. Integritas. Itu pesan besarnya.
Di awal pemerintahannya ini, ASR menyadari satu hal. Untuk bisa mewujudkan cita-citanya membangun Sultra, tidak hanya bisa mengandalkan anggaran semata, tetapi juga strategi yang matang. Anggaran besar sekalipun tanpa tata kelola pemerintahan yang bersih, justru akan menimbulkan inefisiensi.
Potensi-potensi daerah dimaksimalkan. Ia lantas menemukan setidaknya 800 aset milik pemprov yang bermasalah. Dengan berbagai keadaannya. Dikuasai orang. Dokumennya entah kemana. Hingga arsip yang tidak tertata.
ASR mulai membenahinya. Aset adalah modal dasar pembangunan. Jika aset-aset ini kembali dikuasai pemprov sepenuhnya, tentu dapat mengurangi ketergantungan pemda yang semata mengandalkan transfer dana pemerintah pusat.


Tinggalkan Balasan