Kado Ulang Tahun Untuk Rakyat: Kisah Perahu Layar Dan Filosofi Kepala Ikan
Namun, warga tak pernah meminta bayaran. Sebaliknya, mereka justru menjamu keluarga sang Camat dengan makanan saat tiba di tujuan.
“Bapak saya meninggal, belum sempat membalas kebaikan mereka,” kenang ASR dengan nada lirih. Kenangan tentang warga yang memberi meski mereka sendiri tak punya apa-apa itulah yang membentuk karakter dermawannya hingga kini.
Mengikuti jejak sang ayah, ASR menempuh karier militer melalui AKABRI (sekarang Akmil). Ia lulus tahun 1987. Kariernya cemerlang hingga menjabat sebagai Panglima Kodam XIV Hasanuddin. Di kalangan prajurit, ia dikenal dengan prinsip hidup yang sederhana, “bersedekah adalah kebahagiaan saya.”
Kini, sebagai Gubernur, prinsip itu ia transformasikan ke dalam tata kelola pemerintahan. Di tengah situasi fiskal negara yang sulit dan pemangkasan anggaran, ASR mengambil langkah berani: ia tidak menerima fasilitas apapun dari pemerintah. Gaji, tunjangan, hingga hak-hak materiil lainnya yang melekat pada dirinya selaku kepala daerah, ia lepaskan.
Ia bahkan mengikhlaskan milik pribadinya untuk menutupi celah keterbatasan fiskal demi memastikan pembangunan tetap berjalan. Ia sadar betul bahwa masyarakat tidak bisa menunggu.


Tinggalkan Balasan