“Di kawasan Asia Pasifik, kemajuan yang memprihatinkan dalam pencapaian Tiujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) menandakan adanya potensi penundaan selama 30 tahun, yang menjadi tantangan berat bagi semua negara. Mempercepat pencapaian TPB di tahun-tahun mendatang merupakan suatu keharusan. Komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan, selaras dengan visi ‘Indonesia Emas’, menggarisbawahi perlunya pendanaan yang besar. Menerapkan keuangan berkelanjutan bukanlah hal yang baru bagi negara yang berlandaskan pada semangat kolektif. Dialog malam hari ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, yang bertujuan untuk mengeksplorasi peluang, terutama dalam obligasi mata uang lokal, untuk mengatasi berbagai tantangan di Indonesia secara bersama-sama” kata Muhammad Didi Hardiana, Head of Innovative Financing Lab, UNDP Indonesia.
Meskipun Pemerintah Indonesia memimpin advokasi dalam instrumen keuangan tematik seperti Sukuk Hijau (instrumen utang berbasis Syariah), Obligasi TPB, dan Obligasi Biru, terdapat sedikit penerbitan yang dilakukan oleh sektor korporasi dalam mata uang lokal. Pengembangan lebih lanjut dari pasar obligasi/sukuk tematik di Indonesia sangatlah penting untuk memenuhi komitmen iklim dan sosial negara.
Tinggalkan Balasan