Lalu bagaimana caranya seorang pembicara dapat menjadi pembicara yang autentik? Priska menyampaikan bahwa trik utamanya adalah menjadi pembicara yang terbuka, antusias untuk membangun koneksi dengan pendengar, dan bersemangat untuk bercerita juga mendengarkan pendengarnya.
Pembicara perlu terbuka untuk menceritakan perasaan dan pemikirannya kepada pendengarnya. Pembicara dapat berlatih dengan membayangkan bahwa apa yang akan disampaikannya merupakan hal-hal yang bisa dengan tenang disampaikan pada orang terdekat seperti kepada sahabat dan keluarga. Hal ini membuat hal yang disampaikan merupakan hal-hal yang ingin disampaikan dari hati ke hati.Â
Lalu, pembicara tentunya perlu antusias untuk dapat terhubung dengan pendengarnya. Sebagaimana hal-hal yang disampaikan pembicara bukan tentang apa yang ingin disampaikannya, tapi tentang mengapa pembicara ingin menyampaikan hal-hal tersebut. Contohnya seperti menceritakan rasa takut dan cemas yang dialami pembicara ketika hendak mencoba hal yang baru di hidupnya. Cerita tersebut diupayakan dapat menarik perhatian pendengar karena pernah juga mengalami perasaan atau pengalaman yang sama. Dalam hal ini, pembicara perlu terus mempertahankan perhatian pendengar terhadap cerita yang disampaikannya, agar pendengar tidak mudah terbawa bernostalgia dengan ingatan-ingatan yang dimilikinya.
Tinggalkan Balasan