metrokendari

Berita Terkini Sulawesi Tenggara

Kamis, 7 Mei 2026

Menanti Penurunan Suku Bunga The Fed, Begini Strategi Investasi Saham yang Tepat

Kondisi pasar saham juga bisa dibilang kurang menarik karena rata-rata transaksi harian mayoritas selalu di bawah Rp10 triliun sepanjang 2024. 

Apalagi, penerapan full call auction di papan notasi khusus membuat investor cukup sulit melihat pergerakan sektoral karena mayoritas mengalami koreksi. Penyebabnya, banyak saham yang tadinya tidur di Rp50 per saham, kini malah turun lebih dalam. Hasilnya, sektor yang menguat adalah yang didukung saham booming seperti Grup Prajogo Pangestu, AMMN, DSSA, hingga SRAJ. 

Surya Rianto, Founder Mikirduit, mengatakan tren pasar saham yang bisa dibilang sudah sideways sejak 2022 hingga saat ini adalah hal yang wajar ketika bank sentral melakukan transisi dari kebijakan suku bunga rendah menjadi tinggi. Hal itu membuat roda pertumbuhan ekonomi melambat, hasilnya kinerja bisnis juga mengalami perlambatan. Dengan underlying saham adalah bisnis perusahaan, kondisi itu membuat prospek pasar saham kurang menarik. 

“Saat posisi suku bunga tinggi seperti saat ini, opsi investasi yang menarik justru ada di obligasi negara. Pasalnya, harga obligasi negara akan turun karena suku bunga bank sentral naik, artinya banyak posisi obligasi yang murah dengan tingkat kupon tetap. Dengan begitu, investasi ke aset tersebut lebih memberikan kepastian cuan dibandingkan dengan saham yang justru dalam tekanan karena prospek bisnis yang melambat,” ujarnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Dilarang Keras Copy Paste!