Kota Kendari Langganan Banjir, Masalah Klasik Yang Tidak Kunjung Usai
​Alih Fungsi Lahan tanpa Kendali: Pembangunan ruko, perumahan, dan beton-beton komersial terus merambah daerah resapan air, sementara penegakan hukum tata ruang tumpul di hadapan pemodal.
​Proyek Seremonial: Janji-janji normalisasi sungai dan pembuatan kolam retensi sering kali menguap begitu saja setelah masa kampanye atau rapat koordinasi selesai.
​”Warga tidak butuh foto pejabat yang meninjau lokasi banjir dengan sepatu bot mahal. Warga butuh jaminan bahwa saat mereka tidur di malam hari dalam kondisi hujan, kasur dan barang-barang mereka tidak terendam air lagi.”
​Ironi Ibu Kota Provinsi
​Sangat ironis melihat Kota Kendari, yang menyandang status sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, justru tak berdaya menghadapi persoalan klasik bernama genangan air.
Kerugian materil tak terhitung lagi: perabotan rusak, kendaraan tenggelam, hingga aktivitas ekonomi yang lumpuh total. Belum lagi ancaman penyakit dan trauma psikologis yang menghantui anak-anak serta lansia di pemukiman rawan.
​Menyalahkan curah hujan yang tinggi adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab. Hujan adalah faktor alam, namun banjir di area perkotaan adalah murni kegagalan manajemen tata ruang dan kegagalan mitigasi infrastruktur.


Tinggalkan Balasan