Keluarga Siswa Hanyut di Curug Kembar Akan Tempuh Jalur Hukum untuk Keadilan Anaknya
Andhika menyebut untuk kegiatan LDKS tersebut siswa membayar Rp 450 ribu. Menurutnya, keluarga tak akan menyetujui jika kegiatan dilakukan di curug.
“Karena almarhumah ini punya penyakit asma, nggak mungkin kita izinin dia sampai curug. Curug kan dingin, nggak mungkin nggak mau ambil risiko,” katanya.
Berdasarkan keterangan yang didapat dari pihak perkemahan, dalam kontrak sekolah dengan pihak pengelola tak ada rincian ke Curug Kembar.
“Kalau saya dengar dari marketing camp langsung ke sana, itu nggak ada inian (kegiatan) ke curug. Jadi dia hanya nginap, makan. Ke curug itu di luar dari kontrak,” kata Andhika.
“Dan pemandunya itu juga mintanya 1 pemandu 10 orang karena masih kecil-kecil. Kalau dewasa 1 pemandu 20 orang, tapi pihak guru nggak mau ini, maunya ya udah 1 orang, pas mau dipanggil lagi pemandunya, nggak mau,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan