Era Jerome Powell Berakhir, Ditunjuk Jadi Ketua Sementara The Fed di Tengah Gejolak Pasar
WASHINGTON D.C. – Lanskap kebijakan moneter Amerika Serikat resmi memasuki babak baru. Masa jabatan delapan tahun Jerome Powell sebagai Ketua Bank Sentral AS (The Fed) telah berakhir pada Jumat, 15 Mei 2026.
Namun, demi menjaga stabilitas transisi kepemimpinan, Dewan Gubernur The Fed secara resmi menunjuk Powell untuk menjabat sebagai Ketua Sementara (chair pro tempore).
​Powell akan memegang posisi sementara ini hingga Kevin Warsh, sosok yang dipilih oleh Presiden Donald Trump dan telah mendapat persetujuan Senat, resmi dilantik menjadi bos baru The Fed.
​Transisi Diwarnai Pro dan Kontra
​Penunjukan Powell sebagai pejabat sementara ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Internal dewan gubernur sempat diwarnai perbedaan pendapat.
Dua anggota dewan, Stephen Miran dan Michelle Bowman, menyatakan penolakan mereka. Alasan utamanya adalah karena keputusan tersebut tidak menetapkan batas waktu atau deadline yang jelas mengenai berapa lama status “sementara” Powell akan berlangsung.
​Di sisi lain, meski turun dari kursi nomor satu, Powell dipastikan akan tetap bertahan di jajaran Dewan Gubernur The Fed. Langkah ini diambil setidaknya sampai spekulasi dan penyelidikan hukum dari Departemen Kehakiman AS terhadap dirinya benar-benar dinyatakan rampung dan bersih dari intervensi politik.
​Pasar Saham dan Obligasi Langsung Bergejolak
​Kabar berakhirnya era kepemimpinan penuh Powell langsung memicu volatilitas tinggi di Wall Street dan pasar obligasi global. Investor merespons dengan penuh kehati-hatian terhadap arah kebijakan moneter AS di bawah kendali Kevin Warsh nantinya.
​Berikut adalah dampak instan yang terjadi di pasar keuangan:
​Saham Teknologi Berguguran: Sektor semikonduktor Philadelphia jatuh hingga 4%. Saham raksasa teknologi seperti NVIDIA turun 4,4%, Advanced Micro Devices (AMD) merosot 5,7%, dan Intel melemah 6,2%.
​Lonjakan Yield Obligasi: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun melonjak tajam mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi ke depan. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun menembus angka 5,1%, level tertinggi yang jarang terlihat sejak era krisis keuangan global 2007–2009.


Tinggalkan Balasan