metrokendari

Berita Terkini Sulawesi Tenggara

Selasa, 19 Mei 2026

Dolar AS Perkasa, Harga Elektronik dan Onderdil Kendaraan Mulai Merangkak Naik

Dolar Naik

JAKARTA,METROKENDARI.COM — Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan efek domino yang nyata bagi konsumen di dalam negeri.

Sektor barang elektronik dan suku cadang (onderdil) kendaraan menjadi dua lini industri yang paling cepat merespons kenaikan mata uang asing tersebut, mengingat tingginya ketergantungan pada komponen impor.

​Pantauan di sejumlah pusat perdagangan elektronik dan otomotif di Jakarta menunjukkan adanya penyesuaian harga secara bertahap sejak awal tahun hingga pertengahan 2026.

​Sektor Elektronik: Kenaikan hingga 5% dan Tekanan pada Gadget

​Di pusat perbelanjaan elektronik seperti Glodok dan Mangga Dua, para pedagang mengaku terpaksa menaikkan harga jual akibat biaya modal yang membengkak. Selain faktor penguatan dolar AS, lonjakan harga bahan baku global seperti tembaga untuk kabel juga turut memicu kenaikan ini.

​”Sebenarnya kenaikan sudah terasa bertahap dari awal tahun, rata-rata naik sekitar 5%. Untuk menyiasatinya agar konsumen tidak kabur, kami terpaksa sering memberikan program diskon atau memotong margin keuntungan kami sendiri,” ujar salah satu pedagang elektronik di kawasan Glodok.

​Barang-barang teknologi seperti laptop, printer, komponen komputer (hardware), hingga peralatan rumah tangga bermerek internasional menjadi yang paling terdampak.

Selain barang fisik, biaya langganan software asing dan layanan cloud berbasis dolar juga terpantau mengalami penyesuaian tarif.

​Sektor Otomotif: Harga Onderdil Kendaraan Ikut Terkerek

​Kondisi serupa terjadi di pasar suku cadang kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

Meskipun sebagian rakitan kendaraan sudah dilakukan di dalam negeri, bahan baku mentah dan komponen presisi tinggi tertentu masih harus didatangkan dari luar negeri dengan transaksi berbasis dolar AS.

​Suku Cadang Impor (CBU/Fast Moving): Mengalami kenaikan berkisar antara 3% hingga 7%, terutama untuk komponen mesin, sistem pengereman, dan kelistrikan.

​Onderdil Lokal: Mulai membayangi kenaikan harga akibat biaya logistik dan bahan baku impor yang ikut naik.

​Para pelaku usaha bengkel mengeluhkan bahwa situasi ini membuat konsumen cenderung menunda servis besar atau memilih opsi suku cadang alternatif (imitasi/keaslian kelas dua) demi menghemat anggaran.

​Strategi Pelaku Usaha dan Konsumen

​Menyikapi tren kenaikan ini, pengamat ekonomi menyarankan masyarakat untuk lebih selektif dalam melakukan pembelian barang tersier.

​”Jika tidak mendesak, konsumen sebaiknya menunda pembelian gadget atau barang elektronik mewah. Sementara untuk pemilik kendaraan, perawatan berkala jauh lebih penting dilakukan sekarang untuk mencegah kerusakan komponen berat yang harga onderdilnya sedang melambung,” jelasnya.

​Di sisi lain, situasi ini diharapkan menjadi momentum bagi industri lokal untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) agar pasar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing di masa depan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Dilarang Keras Copy Paste!