Sumpah Pemuda dan Tantangan Zaman Digital: Mari Bersatu, Santun, dan Percaya pada Kepemimpinan ASR
Dalam konteks inilah, pesan Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR), menjadi sangat relevan. Saat memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, ia menegaskan bahwa “Pemuda bukan pelengkap sejarah, tetapi penentu sejarah.”
Pesan ini mengandung makna mendalam: bahwa pemuda bukan sekadar penonton perubahan, tetapi aktor utama dalam menulis sejarah bangsa. Teori Human Capital dari Theodore Schultz menyebutkan bahwa pembangunan sumber daya manusia khususnya generasi muda merupakan kunci kemajuan ekonomi dan sosial suatu bangsa.
Maka, ketika ASR menekankan pentingnya kreativitas dan keilmuan sebagai bentuk perjuangan masa kini, itu bukan sekadar seruan moral, tetapi strategi pembangunan berkelanjutan.

Gubernur ASR juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dan etika sosial. Dalam konteks komunikasi publik, diksi yang santun menjadi bentuk kecerdasan sosial. Seperti dikatakan oleh Mahatma Gandhi, “Kebesaran seseorang tidak diukur dari kekuatannya berbicara, tetapi dari kemampuannya untuk berbicara dengan hormat.”


Tinggalkan Balasan