metrokendari

Berita Terkini Sulawesi Tenggara

Minggu, 1 Februari 2026

OPINI: Ahan Fergiawan “Genealogi Jihad Hijau Muhammadiyah”

Kerusakan akibat aktivitas Pertambangan (Foto.Ilustrasi/metrokendari.com)

“Jihad Hijau” dalam Muhammadiyah bukan ajakan berperang, tetapi komitmen moral dan intelektual untuk menyelamatkan lingkungan. la berakar pada teologi Al-Ma’un yang berpihak pada yang tertindas-termasuk alam yang hari ini digilas oleh kapitalisme ekstraktif. Membela lingkungan, karenanya, adalah bagian dari membela kemanusiaan.

Krisis ekologis, sebagaimana ditegaskan David Efendi, adalah krisis moral. Keserakahan manusia melahirkan cara pandang antroposentris yang menempatkan alam hanya sebagai objek eksploitasi. Jihad Hijau hadir untuk mengembalikan posisi manusia sebagai pemegang amanah ekologis, bukan penguasa absolut.

Di ruang nonformal, Kader Hijau Muhammadiyah mengambil peran lebih progresif. Mereka tidak berhenti pada aktivitas simbolik, tetapi turun mengadvokasi konflik agraria, menolak tambang merusak, dan mengkritik kebijakan internal yang dianggap bertentangan dengan spirit ekologis Muhammadiyah.

Namun integritas gerakan ini diuji. Keputusan menerima konsesi tambang batubara menciptakan disonansi antara idealisme “menyelamatkan bumi” dan praktik “mengeruk bumi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Dilarang Keras Copy Paste!